Peran Kedokteran Forensik dalam Pembuktian Perkara Pidana

  • Reny Okprianti Universitas Muhammadiyah Palembang, Palembang, Indonesia
  • Nur Husni Emilson Universitas Muhammdiyah Palembang, Palembang, Indonesia
  • Syarifah Al Amiroh Universitas Muhammdiyah Palembang, Palembang, Indonesia
  • Nikita Febriyani Universitas Muhammdiyah Palembang, Palembang, Indonesia
  • Rina Oktarina Universitas Muhammdiyah Palembang, Palembang, Indonesia
  • Wulan Purnama Sari Universitas Muhammdiyah Palembang, Palembang, Indonesia
Keywords: Forensic Medicine, Post-mortem Report, Criminal Evidence

Abstract

The relationship between law and medicine is crucial in the process of proving someone's guilt because not all aspects of knowledge can be mastered by a judge. In this case, the role of a doctor is vital in helping reveal the condition of evidence in the form of a human body or human body parts in a trial. The role of forensic doctors is very significant in handling criminal cases by revealing evidence that can be in the form of a human body or body parts, as well as providing an assessment of the causal relationship between the victim and the perpetrator of the crime through a post-mortem report, which provides an overview for the judge. Through their medical knowledge and forensic skills, forensic doctors help uncover facts related to criminal cases, especially in cases of death or physical violence. By conducting post-mortem examinations, autopsies, and preparing post-mortem reports, they provide medical evidence that is crucial for the investigation and criminal evidence process in court.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Andrianto, N. (2020). Hukum kesehatan dan kedokteran forensik. Kencana.
Ekoyusmario, M., Humaerah, & Agis, A. (2022). Kekuatan hukum visum et repertum dalam pembuktian tindak pidana penganiayaan: Studi Polres Enrekang Muh. Journal of Lex Generalis (JLS), 1(4), 489–501.
Eryanto, H. (2020). Kedudukan visum et repertum sebagai alat bukti dalam perkara pidana. Jurnal Hukum & Pembangunan, 50(3).
Indonesia. (1981). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Komalawati, V. (2018). Hukum perdata dan hukum kedokteran. Mandar Maju.
Munib, M. A. (2018). Tinjauan yuridis kewenangan Kepolisian Republik Indonesia dalam penyelidikan dan penyidikan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Justitiable-Jurnal Hukum, 1(1), 60–73.
Putra, A. (2021). Medical liability and legal protection for patients in Indonesia. Indonesian Journal of Health Law.
Rahayu, S. (2020). Peran visum et repertum dalam proses pembuktian pidana. Jurnal Hukum & Peradilan.
Silalahi, R. (2020). Peran ilmu kedokteran forensik dalam pembuktian tindak pidana penganiayaan. Jurnal Psikogenesis, 2(1).
Soekanto, S. (2019). Pengantar penelitian hukum. UI Press.
Widodo, B. (2022). Keterangan ahli sebagai alat bukti dalam peradilan pidana. Jurnal Yudisial.
Published
2025-12-28
How to Cite
Okprianti, R., Emilson, N. H., Amiroh, S. A., Febriyani, N., Oktarina, R., & Sari, W. P. (2025). Peran Kedokteran Forensik dalam Pembuktian Perkara Pidana. Collegium Studiosum Journal, 8(2). https://doi.org/10.56301/csj.v8i2.2001